Allah ta’ala turun ke langit dunia ketika sepertiga malam yang pertama telah berlalu. Dia berkata, “Akulah raja, Akulah raja, siapa yang berdo’a kepada-Ku Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku, Aku beri, siapa yang meminta ampun, Aku ampuni. Dia terus berkata demikian sampai sinar fajar merekah. (HR. Muslim)
——-
——-
Seperti gelapnya yang pekat, malam menyimpan begitu banyak rahasia, Tidak saja pada taburan bintangnya yang abadi. Tempat sebagian orang menggantung pandangan lepasnya, untuk memandu diri mencari arah, di darat dan di lautan. Bukan hanya pada bulannya yang bulat, saat anak-anak menunda tidur. Bertepuk riuh di lorong rumah petak yang kumuh.
Siang hari, memang, memberi kita begitu banyak penghidupan (living), Tapi, sejujurnya, malam lah yang memberi kita kehidupan (life). Sejumput nasi, seteguk air, selembar ribuan, juga prestise dan cita rasa apa saja, adalah perburuan kemanusiaan kita di siang hari. Dengan itu kita mendapat penghidupan – meski sebagiannya kadang kita buru dengan cara yang sangat kotor.
Nafas kita masih tersambung, dengan nasi itu, atau air itu, atau status itu – yang riil atau yang absurd – dengan izin Allah tentu. Walau sekali waktu kesulitan datang mencekik, serasa tak memberi kita umur lain, Tetapi perjalanan hidup tak akan berhenti di tengah-tengah serialnya. Sebab kematian tak akan datang sebelum cerita diri kita benar-benar usai. Itulah mengapa, Rasulullah menegaskan, bahwa tak akan ada manusia yang mati, kecuali hak-hak rezekinya telah ditunaikan lunas oleh Allah SWT. Ini berlaku bagi siapa saja, kafir atau muslim, fasik atau mukmin.
Tapi, sejujurnya – sekali lagi – malam memberi kita kehidupan. Dalam, damainya yang dalam. Atau sunyinya yang zulus. Saat tak ada desah angin dan lambaian dedaunan. Itulah saat terbaik yang dinyatakan Allah untuk beristirahat. “Dialah (Allah) yang menjadikan malam bagi kamu supaya karmu beristirahat padanya. Dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar" (Qs. Yunus:67),
Maka, rnalam, adalah tempat kita mengambil segala energy lahir dan batinnya. Saat semua kepenatan siang tertumpahkan dalam diam, pada malam itu. Saat setiap nyawa menutup mata, rnalam adalah hiasan, tanda kekuasaan, sekaligus pakaian. "Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat. Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (Qs. An-Naba’: 9-11).
Tetapi rahasia malam, bagi orang-orang beriman, tak berhenti pada sumber energi kehidupan lahiriyahnya. Dengan tidur nyenyak atau istirahat panjangnya. Rahasia malam adalah rahasia tentang bagaimana sebuah kehidupan mengambil sumber kekuatannya yang benar, orisinil dan maha dahsyat, pada sebagaian potongan waktunya.
Ya, sebab pada setiap sepertiga malam terakhir, Allah SWT turun ke langit bumi, 1alu memberi kesempatan kepada para hamba-Nya, untuk memohon dan mengadu kepada-Nya, dalam kesendirian yang murni, berdua dengan-Nya. Rasulullah bersabda, “Allah tabaaraka wata’aala turun setiap malam ke langit bumi, ketika malam tersisa sepertiga terakhir. Dia berkata,’ Adakah yang memohon kepada-Ku, agar aku kabulkan, adakah yang meminta kepada-Ku, agar aku berikan, adakah yang memohon ampun, agar Aku ampuni.” (HR Bukhari dan Muslim).
Di sinilah rahasia itu. Pada sepertiga terakhir dari setiap potong malam. Itulah kehidupan itu. Adakah kehidupan, yang lebih utama dari memohon kepada Allah lalu diberi, meminta lalu dikabulkan-Nya, serta mengharap ampun lalu diampunkan-Nya?
Pada penghujung malam itulah saat terbaik memburu sumber kehidupan. Dengan shalat, do’a, munajat dan juga istighfar. Pemaknaan malam dari sisi ini memberi kita ruang pengaduan yang sangat luas tanpa batas, tapi dengan kepastian yang sangat terjanjikan. Luas, sebab Allah membuka pengabulan itu tanpa membatasi jenis permintaanya.
Terjanjikan, sebab dengan turun ke langit bumi, Allah memberi keistimewaan lain. Bahwa itulah saat paling dekat bagi Allah dengan hamba-Nya. Rasulullah SAW bersabda, ”Saat yang paling dekat bagi Allah dengan hamba-Nya, adalah pada penghujung akhir malam, Maka, jika engkau bisa menjadi orang yang ber-dzikir mengingat Allah pada saat itu, maka lakukanlah." (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Albani).
Sepertiga malam di ujung akhir itu benar-benar potongan waktu yang sungguh-sungguh lain. Di sana sebuah seremoni teramat sakral mendapatkan waktunya. Tidak lama. Tetapi begitu kuat meninggalkan bekas. Di sana ada rahasia, ada kekuatan, sumber kehidupan. Tetapi hanya mereka yang merasakannya yang benar-benar mengerti. “Sesungguhnya, bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu 1ebih berkesan." (Qs, Al-Muzzammil: 6).
Rahasia ini tak akan bisa dirasakan kecuali dicoba dan dicoba. Mata air kehidupan di ujung malam, adalah dunia nyata di tengah samudera mimpi orang-orang yang terlelap hingga pagi, atau bergelimang dosa hingga matahari jauh meninggi.
Komunikasi dengan Allah di ujung malam, adalah pelepasan penat dan penyandaraan kepercayaan yang menemukan momen terkuatnya, kepada Allah Yang Maha Perkasa. Dalam munajat yang terseok antara harap dan cemas, kita bisa menumpahkan pengakuan kita, atas segala dosa dan salah agar Allah berkenan memaafkan. Atau mengharap kebaikan, petunjuk, dan pilihan-pilihan hidup yang terhormat di esok kelak. Di sini keangkuhan tak punya tempat. Sebab keangkuhan seringkali memerlukan atribut-atribut visual. Sesuatu yang mungkin menjadi hiasan kita sepanjang siang, apapun nama dan bentuknya.
Tapi di ujung malam yang sepi itu, rasakan benar bedanya. Saat tak ada lagi batas antara persepsi kita tentang kita, dengan fakta sebenarnya tentang kita. Tentu, setiap hati punya kadar kebersihan dan keikhlasannya. Dan, karenanya, setiap hati punya apresiasi dan kadar penghayatan yang berbeda pula. Selalu ada gradasi di sini. Dari yang kuat hingga yang sangat lemah. Tapi yang tidak bisa jujur pada detik-detik berharga itu, jangan berharap bisa jujur pada kali yang lain.
Bila malam datang menjelang. Berdo’alah, agar Allah membangunkan kita, pada sepertiga terakhirnya, saat Ia turun ke langit bumi. Untuk kita menjumpai-Nya, memohon dan mengadu kepada-Nya. Sejujurnya, dengan itulah, kita akan bisa merasakan kehidupan, dalam arti dan cita rasanya yang benar-benar benar. Wallahu’alam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar